Ketika harus menghukum anak

Ketika harus menghukum anak

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus mendidik anak – anak dengan penuh kelembutan, penuh kasih sayang. Banyak sekali kisah yang menceritakan bagaimana Rasulullah memperlakukan dan mendidik anak.  Rasulullah saw memberi penghormatan kepada hak anak yang masih kecil sekalipun, namun kita justru sangat sering mengabaikannya dengan alasan mendidik mereka untuk menjadi dermawan. Kita sering merampas hak – hak mereka. Memang mereka mau memberi, namun bukan karena dorongan hati, melainkan karena tak kuasa menghadapi desakan orangtua. Mereka mengalah karena tak berdaya, sehingga saat mereka beranjak dewasa, kita dikejutkan oleh sikap mereka yang keras kepala, mau menang sendiri, dan tidak mau peduli dengan orang lain.

Di balik penghormatan Nabi saw kepada hak anak, ada kebaikan yang sangat besar. Ketika hak mereka dijaga, mereka akan belajar menemukan rasa aman, mereka juga akan menghormati orang lain. Bercermin dari Rasulullah, kita perlu memilah cara bersikap kepada anak. Memberi hukuman kepada anak dalam bentuk yang sama dengan tingkat yang sama pula untuk setiap bentuk kelesalahan, justru dapat membuat hukuman tidak efektif. Sehingga persoalannya terletak bagaimana kita memberi hukuman pada anak.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika harus menghukum anak, diantaranya yaitu:

  1. Menghukum anak bukan sebagai luapan emosi, apalagi sebagai pelampiasan rasa jengkel karena perilaku yang memusingkan kepala.

Sesuatu berawal dari niat, kelihatannya sepele namun bisa berpengaruh terhadap sikap kepada anak yang akhirnya berpengaruh terhadap penerimaan anak.

  1. Menghukum merupakan tindakan mendidik agar anak memiliki sikap yang baik. Artinya, hal terpenting dalam menghukum adalah anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan memahami apa yang menyebabkan ia dihukum.

Jika anak sudah menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikapnya, hendaknya orangtua memberikan umpan balik yang positif terhadap anak kita.

  1. Tindakan memberi hukuman kepada anak adalah dalam rangka mengajari anak bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi.

Orangtua menghukum anak bukan karena marah atau membalas kejengkelan, juga bukan untuk mempermalukan anak.

  1. Hukumlah anak, tetapi jangan sakiti dia.

Seringkali kita bermaksud menghukum anak, tetapi yang terjadi adalah menyakiti hati anak. Kita memojokkan anak – anak dengan pertanyaan – pertanyaan yang membuat mereka mati kutu, atau kita menghujani anak dengan ancaman – ancaman yang menakutkan, meskipun sudah menunjukkan iktikad baik.

  1. Tetaplah berpikir jernih saat menhukum anak. Keputusan yang baik dapat kita ambil hanya dengan pikiran yang jernih. Tanpa itu tindakan kita justru bisa memperpanjang masalah dan memperumit keadaan.
  2. Kasih sayang mendahului kemarahan. Meskipun kita memberikan hukuman pada anak, tunjukkanlah bahwa kita melakukannya karena didorong oleh rasa cinta dan kasih sayang. Imbasnya, jangan berat hati untuk mengusap kepala mereka atau mengecup keningnya dengan mesra ketika mereka menunjukkan keinginan untuk memperbaiki diri. Tunjukkan kasih sayang setelah menghukum, meski hati kita masih bergerumuh karena rasa jengkel yang belum pergi.

 

Wallaahu a’lam bish-shawab

 

Ustadzah. Rahmah Luthfisari