PERPUSTAKAAN KELUARGA

Oleh : Ustadz. Efendiawan, S.Pd

Dunia pendidikan sangat dekat hubungannya dengan buku. Peserta didik selalu berinteraksi dengan buku pelajaran, buku latihan, buku panduan praktek dan sebagainya. Buku merupakan gudang ilmu juga jendela pengetahuan.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah masih dominan dengan buku pelajaran sesuai kurikulum yang berlaku sehingga pembelajaran cenderung bersifat akademik dan kurang memberi penekanan pada memperluas wawasan. Dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa, pemerintah melalui kemdikbud meluncurkan sebuah gerakan yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembalajaran sepanjang hayat yang maknanya pembelajaran harus diperkaya dengan membaca buku-buku selain buku pelajaran.

Keberadaan perpustakaan sekolah sangat penting, namun pemanfaatan perpustakaan sekolah pastilah terbatas karena hanya menggunakan waktu-waktu jam istirahat dan program-program pendukung GLS di pagi hari sebelum kegiatan belajar mengajar. Kebutuhan peserta didik untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan budi pekerti melalui gerakan literasi tentu harus didukung dengan program literasi lain di luar sekolah.

Perpustakaan Keluarga akan menjadi solusi ketika bisa diinisiasi pembentukan dan pengelolaannya oleh sekolah-sekolah. Sasaran program perpustakaan keluarga bukan hanya untuk peserta didik saja namun juga untuk seluruh anggota keluarga dan tamu. Perpustakaan keluarga merupakan perpustakaan yang ada si rumah masing-masing peserta didik yang dibuat oleh anggota keluarga itu sendiri dan dimanfaatkan juga setidaknya oleh anggota keluarga itu sendiri. Perpustakaan model ini bisa dimulai dengan adanya penugasan pembentukannya dari sekolah bekerjasama dengan komite sekolah kepada setiap peserta didik dan keluarganya.

Pembuatan perpustakaan keluarga dimulai dengan sosialisasi konsep dan pengelolaan perpustakaan pada forum pertemuan orang tua dan guru. Konsep ini meliputi sarana prasarana minimal, menejemen pengelolaan dan pemantauan oleh sekolah khususnya terhadap aktivitas pemanfaatan perpustakaan keluarga oleh peserta didik. Sarana prasarana yang dibutuhkan seperti rak buku yang bisa memuat dan memisahkan buku anak dan buku orang tua. Pengelolaan minimal meliputi jadwal membaca bersama keluarga, perencanaan penambahan koleksi buku setiap bulannya, pencatatan peminjaman-pengembalian buku, dan pembuatan tata-tertib bersama.

Pemantauan oleh sekolah bisa dilakukan dengan penugasan kepada peserta didik membuat laporan aktivitas pemanfaatan perpustakaan keluarga secara berkala yang ditandatangani orang tua.